Monday, 18 July 2011


Hutang Suami Kepada Isteri

alt
Setelah beberapa tahun saya menjadi pengamal undang-undang dan berkongsi ilmu dalam beberapa 'ceramah', isu yang selalunya timbul apabila membicarakan tentang poligami adalah isu mengenai nafkah.
Dalam sebuah kuliah yang saya hadiri, ada seorang muslimat bertanya, "Puan, boleh tak kita mencuri duit dari poket suami untuk kegunaan keperluan rumahtangga?"
Walaupun saya pasti majoriti anda sudah maklum akan jawapannya, di sini saya sekadar ingin bertanya pihak suami, "Kenapa harus isteri mencuri haknya sendiri yang tidak kamu tunaikan?"
Dari Muawiyah al-Qusyairi, berkata: "Saya datang kepada Rasulullah S.A.W lalu saya bertanya, bagaimana pandanganmu Ya Rasulullah tentang isteri-isteri kami?" Sabdanya: "Berilah mereka makan dari makanan yang kamu makan, berilah mereka pakaian dari pakaian yang kamu pakai, janganlah kamu pukul mereka dan jangan pula kamu buruk-burukkan mereka (H.R Abu Dawud)
Ayat-ayat dan hadith di atas menjelaskan bahawa setiap suami bertanggungjawab memberi makanan, pakaian kepada isterinya sesuai dengan kemampuannya. Suami tidak boleh memberi makanan dan pakaian kepada isterinya lebih buruk daripada apa yang dimakan dan dipakai suaminya.
Begitu juga kadar makan dan pakai yang menjadi hak isteri diberikan mengikut kadar yang mampu diberikan oleh suaminya. Di dalam hal ini isteri tidak boleh meminta sesuatu yang di luar kemampuan suaminya. Akan tetapi sekiranya si suami mampu memberikannya lebih tetapi tidak diberikan maka dalam situasi ini si isteri dibenarkan mengambil harta suaminya seperti sabda Rasulullah S.A.W: 
Dari Aisyah r.a berkata: Sesungguhnya Hindun datang kepada Rasulullah lalu bertanya: "Wahai Rasulullah, Abu Sufyan adalah orang yang kikir dan tidak mahu memberikan kepadaku belanja yang cukup untukku dan anakku, sehingga terpaksa aku ambil dari hartanya tanpa pengetahuannya". Lalu Baginda bersabda: "Ambillah sekadar cukup untuk dirimu dan anakmu dengan wajar". (H.R Bukhari dan Muslim.
 *Menurut Imam an-Nawawi bahawa hak-hak yang wajib terhadap isteri itu tujuh perkara iaitu;
i. Makanan.
ii. Bahan-bahan keperluan dapur seperti rempah-ratus (bawang, beras/ tepung, minyak masak, garam, gula, asam termasuk lauk-pauk dan sebagainya)
iii. Pembantu rumah bagi isteri yang kebiasaannya mempunyai pembantu.
iv. Pakaian.
v. Alat-alat pembersih badan (sabun, syampu, dan lain-lain)
vi. Perkakas-perkakas rumah seperti perkakas bilik air, perkakas bilik  tidur dan sebagainya
vii. Tempat tinggal (rumah).
(an-Nawawi: 450-461)
Nafkah suami terhadap isteri yang tidak terlangsai itu akan tetap dikira sebagai hutang sekiranya isterinya tidak redha.
Mengikut Hukum Syara'  isteri yang taat dan tidak disabitkan nusyuz oleh Mahkamah Syariah berhak mendapat nafkah daripada suaminya.
*Tertakluk kepada Hukum Syarak dan pengesahan mahkamah, seseorang isteri tidaklah berhak mendapat nafkah apabila dia nusyuz atau enggan dengan tidak berpatutan menurut kemahuan atau perintah suaminya iaitu antara lain;
a) Apabila dia menjauhkan dirinya dari suaminya.
b) Apabila dia meninggalkan rumah suaminya bertentangan dengan kemahuan suaminya.
c) Apabila dia enggan berpindah bersama suaminya ke satu rumah atau tempat lain, tanpa apa-apa sebab yang sah mengikut Hukum Syarak.
Kepada para isteri, andai isteri-isteri semua redha tidak diberikan nafkah tersebut oleh si suami, maka terlepaslah hukuman untuk suami-suami anda di akhirat. Tetapi andai isteri tidak redha, persoalan nafkah ini akan tetap dibangkitkan kembali ketika hari penghisaban di akhirat kelak.
Kepada para suami sekiranya nafkah si isteri tersebut sengaja diabaikan, bawalah bertaubat dan langsaikanlah semula hak-hak si isteri mengikut kemampuan anda. Sudah tentu anda tidak mahu disekat daripada menjejakkan kaki ke Syurga semata-mata kerana hutang anda yang tidak terlangsai kepada si isteri. Wallahualam.

Thursday, 14 July 2011

40 Tahun Berbuat Dosa


Dalam sebuah riwayat dijelaskan, bahwa pada zaman Nabi Musa as, kaum bani Israil pernah ditimpa musim kemarau panjang, lalu mereka berkumpul menemui Nabi Musa as dan berkata:
“Wahai Kalamullah, tolonglah doakan kami kepada Tuhanmu supaya Dia berkenan menurunkan hujan untuk kami!” Kemudian berdirilah Nabi Musa as bersama kaumnya dan mereka bersama-sama berangkat menuju ke tanah lapang. Dalam suatu pendapat dikatakan bahwa jumlah mereka pada waktu itu lebih kurang tujuh puluh ribu orang.
Setelah mereka sampai ke tempat yang dituju, maka Nabi Musa as mulai berdoa. Diantara isi doanya itu ialah: “Tuhanku, siramlah kami dengan air hujan-Mu, taburkanlah kepada kami rahmat-Mu dan kasihanilah kami terutama bagi anak-anak kecil yang masih menyusu, hewan ternak yang memerlukan rumput dan orang-orang tua yang sudah bongkok. Sebagaimana yang kami saksikan pada saat ini, langit sangat cerah dan matahari semakin panas.
Tuhanku, jika seandainya Engkau tidak lagi menganggap kedudukanku sebagai Nabi-Mu, maka aku mengharapkan keberkatan Nabi yang ummi yaitu Muhammad SAW yang akan Engkau utus untuk Nabi akhir zaman.

Kepada Nabi Musa as Allah menurunkan wahyu-Nya yang isinya: “Aku tidak pernah merendahkan kedudukanmu di sisi-Ku, sesungguhnya di sisi-Ku kamu mempunyai kedudukan yang tinggi. Akan tetapi bersama denganmu ini ada orang yang secara terang-terangan melakukan perbuatan maksiat selama empat puluh tahun. Engkau boleh memanggilnya supaya ia keluar dari kumpulan orang-orang yang hadir di tempat ini! Orang itulah sebagai penyebab terhalangnya turun hujan untuk kamu semuanya.”
Nabi Musa kembali berkata: “Wahai Tuhanku, aku adalah hamba-Mu yang lemah, suaraku juga lemah, apakah mungkin suaraku ini akan dapat didengarnya, sedangkan jumlah mereka lebih dari tujuh puluh ribu orang?” Allah berfirman: “Wahai Musa, kamulah yang memanggil dan Aku-lah yang akan menyampaikannya kepada mereka!.”
Menuruti apa yang diperintahkan oleh Allah, maka Nabi Musa as segera berdiri dan berseru kepada kaumnya: “Wahai seorang hamba yang durhaka yang secara terang-terangan melakukannya bahkan lamanya sebanyak empat puluh tahun, keluarlah kamu dari rombongan kami ini, karena kamulah, hujan tidak diturunkan oleh Allah kepada kami semuanya!”
Mendengar seruan dari Nabi Musa as itu, maka orang yang durhaka itu berdiri sambil melihat kekanan kekiri. Akan tetapi, dia tidak melihat seorangpun yang keluar dari rombongan itu. Dengan demikian tahulah dia bahwa yang dimaksudkan oleh Nabi Musa as itu adalah dirinya sendiri. Di dalam hatinya berkata: “Jika aku keluar dari rombongan ini, niscaya akan terbukalah segala kejahatan yang telah aku lakukan selama ini terhadap kaum bani Israil, akan tetapi bila aku tetap bertahan untuk tetap duduk bersama mereka, pasti hujan tidak akan diturunkan oleh Allah SWT.”
Setelah berkata demikian dalam hatinya, lelaki itu lalu menyembunyikan kepalanya di sebalik bajunya dan menyesali segala perbuatan yang telah dilakukannya sambil berdoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah durhaka kepada-Mu selama lebih empat puluh tahun, walaupun demikian Engkau masih memberikan kesempatan kepadaku dan sekarang aku datang kepada-Mu dengan ketaatan maka terimalah taubatku ini.” Beberapa saat selepas itu, kelihatanlah awan yang bergumpalan di langit, seiring dengan itu hujanpun turun dengan lebatnya bagaikan ditumpahkan dari atas langit.
Melihat keadaan demikian maka Nabi Musa as berkata: “Tuhanku, mengapa Engkau memberikan hujan kepada kami, bukankah di antara kami tidak ada seorangpun yang keluar serta mengakui akan dosa yang dilakukannya?”
Allah berfirman: “Wahai Musa, aku menurunkan hujan ini juga di sebabkan oleh orang yang dahulunya sebagai sebab Aku tidak menurunkan hujan kepada kamu.”
Nabi Musa berkata: “Tuhanku, lihatkanlah kepadaku siapa sebenarnya hamba-Mu yang taat itu?”
Allah berfirman: “Wahai Musa, dulu ketika dia durhaka kepada-Ku, Aku tidak pernah membuka aibnya. Apakah sekarang. Aku akan membuka aibnya itu ketika dia telah taat kepada-Ku? Wahai Musa, sesungguhnya Aku sangat benci kepada orang yang suka mengadu. Apakah sekarang Aku harus menjadi pengadu?”

kisah perempuan tua dan kecintaan nya terhadap Rasul


Tersebutlah sebuah kisah seorang Perempuan Tua yang tak pernah berhenti berharap datangnya Syafaat Rasulullah saw. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Allah swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Allah. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasulullah saw?
Insya Allah, Kisahnya akan Bermanfaat dan dapat dipetik Hikmahnya.
Di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan.
Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang.
Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. “Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya.”
Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa.
Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.
Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.
“Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Rasulullah menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya.”

Wednesday, 13 July 2011

ROMANTIK RASULULLAH SAW BERSAMA ISTERI BAGINDA


Rasulullah SAW adalah contoh yang terbaik seorang suami
yang mengamalkan sistem Poligami. Baginda 
romantik kepada KESEMUA isterinya.
Disebutkan satu kisah pada suatu hari isteri-isteri baginda berkumpul dihadapan baginda lalu bertanya “Siapakah diantara mereka (isteri-isteri)  baginda yang paling disayangi”.  Rasulullah SAW hanya tersenyum lalu berkata, “Saya akan beritahu kamu kemudian.”

Selepas daripada pertemuan itu, Rasulullah telah memberikan setiap seorang daripada isteri-isteri baginda sebentuk cincin. Baginda berpesan supaya tidak memberitahu kepada isteri-isteri yang lain. Lalu suatu hari mereka berkumpul lagi dan bertanyakan soalan yang sama.
Rasulullah  SAW lalu menjawab “Orang yang paling aku sayangi ialah yang kuberikan cincin kepadanya”.  Isteri-isteri baginda tersenyum  puas kerana menyangka hanya diri mereka sahaja yang mendapat cincin dan merasakan bahawa diri mereka tidak terasing.
Tidak ketinggalan amalan-amalan lain yang boleh dilakukan untuk  mendapat suasana romantik ini Rasulullah SAW ada bersabda yang bermaksud:  “Apabila pasangan suami isteri berpegangan tangan, dosa-dosa akan keluar melalui celah-celah jari mereka”.
Rasulullah SAW selalu berpegangan tangan dengan Aisyah ketika di dalam rumah.  Baginda acap kali memotong kuku isterinya,mandi junub bersama, dan mengajak salah seorang dari isteri baginda pergi musafir (mengikut undian) untuk menambahkan lagi kasih sayang di antara mereka.


*************************************

Inilah serba sedikit kisah romantik Rasulullah SAW agar dapat kita tauladani dan praktikkan dalam kehidupan berumahtangga. Pada suami-suami yang budiman selepas inipeganglah tangan isteri anda setiap waktu, setiap masa dan setiap saat begitu juga pada isteri-isteri solehah peganglah tangan suami anda bagi menghapuskan segala dosa-dosa.

Pada yang belum berumahtangga tu 
cepat-cepatlah mendirikan rumahtangga kerana dengan perkahwinan itu boleh menjamin anda ke syurga.


“Ya Allah cantikkanlah akhlak ku seperti mana cantiknya akhlak Rasulullah SAW, tenangkanlah hati ku bagai tenangnya air di tasik, dan serikanlah wajahku bagai bercahayanya bulan purnama di hari berserinya wajah orang-orang beriman…” Aaaammmmmiiiiin Ya Rabbal ‘Alamin


Sabda Nabi, ilmu itu milik Tuhan, barang siapa menyebarkan ilmu demi kebaikan, Insya Allah Tuhan akan menggandakan 10 kali kepadanya

Sunday, 10 July 2011

8 Ciri-Ciri Wanita Solehah


1. Mencintai Allah dan Rasul
Melebihi cinta dan ketaatan kepada orang lain.Sabda Rasulullah s.a.w : “Tiga perkara sesiapa yang memilikinya akan mendapat kemanisan iman: menjadikan Allah dan Rasulnya lebih di cintai daripada kedua-duanya…” Riwayat al-Bukhari dan Muslim.
Mencintai Allah dan Rasul dengan mentaati segala suruhan dan larangan syarak.
Sabda Rasulullah s.a.w melalui hadis qudsi: “hamba-ku yang mendekatkan diri kepada-ku dengan melakukan amalan fardu lebih aku cintai. Sentiasalah hamba-ku berterusan menghampiriku dengan melakukan amalan sunat sehingga aku mengasihinya. Apabila aku mengasihinya, jadilah aku pendengarnya yang dia mendengar dengannya, penglihatan yang dia melihat dengannya, tangan yang dia memukul dengannya dan kaki yang dia berjalan dengannya, kalau dia meminta kepadaku, pasti aku akan memberinya dan kalau dia memohon perlindunganku, pasti aku akan melindunginya” Riwayat al-Bukhari.
Termasuk mencintai Rasulullah mengikut dan mencintai baginda dalam setiap perkara Firman Allah s.w.t :”Katakanlah (wahai Muhammad): jika benar kalian mencintai Allah, maka ikutlah aku,nescaya Allah akan mengasihi kalian, Dan (ingatlah), Allah maha pengampun; lagi maha mengasihani”:- surah Ali Imran:31
2. Mentaati Ibu Bapa
Sentiasa mentaati ibu bapa dalam perkara makruf menasihati ke arah kebaikan. Jangan menderhaka kepada keduanya.
Firman Allah s.w.t “Dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapa”- surah al-Israk:23
Sebelum bersuami ketaatan kepada ibu bapa adalah yang lebih utama selepas Allah dan Rasul.
3. Mentaati Suami Dalam Perkara Makruf
Setelah berkahwin ketaatan kepada ibu bapa berpindah kepada suami. Mentaati dalam perkara yang baik dan harus. Apabila suami menyuruh kepada maksiat tiada lagi ketaatan.
Sabda Rasulullah s.a.w: “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam perkara maksiat kepada Allah”.-
Rasululllah bersabda, “Jika diizinkan seorang manusia sujud kepada manusia,tentu aku akan suruh wanita-wanita sujud kepada suaminya”.-Riwayat al-Tirmizi hasan sahih.
Rumahtangga bahagia sebenarnya terletak pada isteri yang solehah. Ia taat kepada perintah Allah dan Rasul serta setia kepada suami yang soleh.
“Wanita yang solehah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri (tidak berlaku curang serta memelihara rahsia dan harta suaminya ) di belakang suaminya, oleh kerana Allah telah memelihara mereka…” (Surah An-Nisa’:34)
4. Menguruskan rumahtangga
Seorang isteri Muslimah disuruh oleh Allah agar sentiasa berada dirumah dan tidak boleh pergi kemana-mana sesuka hati tanpa izin suami. Duduk dirumah bukan bererti hanya berdiam diri sahja tetapi mengerjakan tugas sebagai isteri.
Hikmah daripada perintah Allah tersebut iaitu, supaya para isteri dapat menjaga dan mendidik anak secara lebih sempurna ketika suami mencari rezeki. Masa lapang ia perlu di isi dengan menambah pengetahuan tentang ugama sebagai bekalan untuk menghadapi ujian hidup pada masa hadapan dan membimbing keluarga ke arah kebaikan.
Sabda Rasulullah s.a.w “Menuntut ilmu wajib ke atas setiap muslim”. Riwayat Ibn Majah Sahih oleh al-Albani dalam Sunan Ibn Majah.
Bijaksana menguruskan hal rumahtangga mendahulukan amalan yang wajib daripada yang sunat. Amalan sunat dan tanggungjawap kepada suami dan keluarga perlu didahulukan kewajipan sebagai isteri daripada amalan sunat yang lain.Sabda Rasulullah s.a.w: “Tidak halalbagi wanita berpuasa sedangkan suaminya ada di sisi tanpa keizinannya”.- Fath al-Bari, Kitab al-Nikah.
5. Berhias untuk suami
Menghias diri merupakan kegemaran wanita. Namun kadangkala wanita yang tidak faham akan kewajipannya,ia berhias diri ketika akan keluar rumah. Tetapi ketika di rumah ia dalam keadaan tidak bersih. Padahal di dalam Islam menganjurkan supaya isteri berhias hanya untuk suami.
Sebuah riwayat menceritakan : “Rasulullah s.a.w ditanya tentang sebaik-baik wanita. Baginda menjawab:Yang menyukakan kamu apabila memandangnya. Apabila disuruh, dia patuh, menjaga rahsiamu dengan baik dan menjaga harta kamu”.-Riwayat Ahmad dan selainnya dihasankan oleh al-Albani.
Tujuan isteri berhias ketika di rumah ialah supaya suami terhibur. Jika suami pulang dari tempat kerja dalam keadaan letih dengan melihat isteri dalam keadaan berseri-seri serta pakaian yang bersih, maka ia menjadi penawar kepada suami. Sehingga keletihan dalam mencari rezeki tadi menjadi hilang, dan bertambahlah kasih sayangnya terhadap isteri.
Sabda Rasulullah SAW: “Dari Jabir ra. Ia berkata: Kami pernah pergi bersama-sama Rasulullah di dalam satu peperangan. Ketika kami sampai ke Madinah, kami ingin masuk ke rumah masing-masing. Maka Rasulullah SAW pun bersabda: Bersabarlah, iaitu masuklah pada waktu malam iaitu selepas Isyak, supaya isteri dapat bersikat rambutnya yang kusut dan supaya ia dapat berhias kerana telah lama telah ditinggalkan suaminya.” (HR:Muttafaqun Alaihi)
Berhias bukan sahaja bagi menyambut kepulangan suami dari tempat kerja tetapi juga ketika suami ada di rumah. Wanita Islam hanya boleh berhias untuk dirinya sendiri dan untuk suaminya. Berhias mestilah dilakukan secara besederhana , kerana tujuan berhias agar ia kelihatan bersih dan senang dilihat oleh suami.
6. Berpakaian menurut ajaran Islam
Isteri yang menutup auratnya merupakan isteri yang solehah, Allah SWT berfirman, ertinya: “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah sebagai perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian daripada tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (Surah Al-A’raar:26)
Wanita solehah perlu memastikan dirinya bersih , kemas dan cantik di rumah bersama suaminya. Apabila melangkah keluar rumah pakaian yang dipilih sentiasa memenuhi syarat syarak menutup aurat dengan sempurna. Dilarang memakai pakaian yang menampakkan susuk tubuh aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali muka dan kedua-dua tangan hingga ke pergelangan.
7. Menjaga batas pergaulan
Allah memerintahkan para wanita agar menundukkan pandangan ketika berhadapan dengan lelaki ajnabi. Jika terdapat sebarang urusan, dia menjaga batasan yang sepatutnya. Ia perlu bagi mengelakan fitnah.
8. Bersahabat dengan wanita solehah
Seseorang itu dinilai mengikut kawan-kawan yang rapat dengannya. Jika kawan-kawanya solehah, maka dia juga memiliki sifat yang sama.
Sabda Rasulullah s.a.w : “seseorang itu berada di atas agama kawannya. Oleh itu, perhatikanlah salah seorang kamu siapa kawannya”.-Riwayat Abu Daud dan al-Tirmizi dengan sanad yang Sahih.

18 Ciri-Ciri Suami Yang Soleh

  1. Suami yang taat dalam melaksanakan perintah serta suruhan Allah dan RasulNya dan dapat pula membimbing isterinya
  2. Suami yang mampu memberikan nafkah sama ada zahir ataupun batin
  3. Suami yang sedia memberikan nasihat, bimbingan , dorongan , didikan dan tunjuk ajar dalam melaksanakan tugas serta tanggungjawab rumah tangga dan juga terhadap Allah S.W.T.
  4. Suami yang bijak dalam menyelesaikan permasalahan isteri yang timbul bersama jiran tetangga atau sebagainya.
  5. Suami yang dapat memberikan pemerhatian dalaam hal keselamatan, kebajikan dan kesihatannya.
  6. Suami yang dapat menyediakan tempat tinggal, pakaian dan makanan yang sempurna mengikut kemampuannya
  7. Suami yang penyabar dan tidak mengggunakan kekerasan dalam menyelesaikan sesuatu masalah atau untuk mendapatkan sesuatu.
  8. Suami yang tidak cemburu buta tanpa asas terhadap isterinya yang mana boleh merosakkan keutuhan rumah tangga mereka.
  9. Sentiasa memberikan kasih sayang, belas kasihan dan pergaulan yang baik terhadap isterinya.
  10. Suami yang sentiasa menjaga rahsia isterinya dan tidak didedahkan kepada orang lain.
  11. Suami yang ikhlas dan jujur serta dapat menepati janji terhadap isteri dan anak-anak.
  12. Suami yang menjauhkan diri dari perbuatan maksiat seeprti meminum minuman keras, berjudi, berzina, menipu, mencuri dan sebagainya.
  13. Suami yang dapat memberikan penjagaan dan pemerhatian yang baik terhadap isterinya. Penjagaan ini meliputi semua hal termasuk kehormatannya.
  14. Suami mestilah bijak memahami persaan dan hati isteri sama ada dengan perbuatan atau perkataan, jangan biarkan dirinya dalam keadaaan bersedih.
  15. Suami yang sentiasa mengutamakan kebersihan diri, zahir dan batin.
  16. Suami mestilah menahan dirinya dari bergaul secara bebas dengan wanita lain.
  17. Suami yang dapat menyelidiki secara cermat dan teliti segala hal yang disampaikan oleh orang lain yang berkaitan dengan isterinya.
  18. Suami yang bijak dalam memimpin rumah tangganya dan melaksanakan tugas dengan penuh amanah serta bertanggungjawab.

tips rumah tangga

Bagi anda yang bercita-cita untuk membina rumahtangga bahagia dan mendapat keberkatan dan keredhaan daripada Allah s.w.t renungkanlah tips berikut :

-1) Anda perlu meletakkan tujuan perkahwinan untuk mencari keredhaan Allah. Naluri untuk berteman dan keinginan kepada anak-anak adalah kehendak semulajadi yang telah diletakkan oleh Allah dalam diri setiap manusia yang normal.Surah Al-Furqan ayat 74 :-

"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikan kami imam bagi orang yang bertaqwa."

2) Anda perlu menyedari bahawa perkahwinan anda dengan orang yang dikasihi itu adalah suatu ketetapan dari Allah. Tanpa restu dan izin yang Maha Berkuasa perkahwinan anda tidak mungkin akan terjadi walau bagaimana besar usaha dan penat lelah yang telah anda lakukan kearahnya. Anda juga perlu menerima hakikat bahawa usia perkahwinan anda terletak di tanganNya, dan Allah berhak mengambilnya pada bila-bila masa yang dikehendakiNya. Sebagai seorang yang beriman dengan qoda' dan qadar Allah anda hendaklah sentiasa berdoa agar jodoh anda dengan pasangan berpanjangan sehingga ke akhir hayat.

Allah berfirman dalam surah Al-An'am ayat 17 :-

"Jika Allah menimpakan satu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka dia maha kuasa atas tiap-tiap sesuatu."

3) Perkahwinan membuahkan hak-hak dan tanggungjawab tertentu yang perlu ditunaikan baik oleh suami atau pun isteri. Diantara tanggungjawab suami ialah melunaskan mas kahwin, memberi nafkah zahir dan bathin, mendidik isteri dan anak- anak serta berlaku baik terhadap mereka. Manakala tanggungjawab isteri pula ialah mentaati suami dalam perkara yang tidak berlawanan dengan syara', memelihara diri dari perkara yang mungkar, menjaga harta suami dan menguruskan rumahtangga.

Segala hak dan tanggungjawab ini telah termaktub didalam Al-Qur'an dan sangat bersesuaian dengan tabiat dan fitrah semulajadi manusia. Anda seharusnya melaksanakan segala tanggungjawab ini bukan sekadar untuk menyukakan hati pasangan anda sahaja, sebaliknya kerana mencari keredhaan Allah s.w.t.

4) Sebagai seorang mukmin , sama ada lelaki dan perempuan mestilah meletakkan Allah dan Rasul lebih tinggi daripada segalanya. Firman Allah yang bermaksud :-

"Katakanlah, jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara,isteri-isteri, kaum keluarga kamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khuatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." [Surah At Taubah, 24]

Oleh itu anda mestilah memahami kedudukan anda di sisi pasangan. Anda bukanlah pihak yang pertama di hatinya. Bagi suami, selepas ketaatan kepada Allah dan RasulNya, ibubapa jatuh tempat kedua kemudian barulah isteri dan keluarga. Sementara bagi isteri, suami adalah tempat kedua selepas Allah dan RasulNya. Kemudian itu barulah ibubapa. Setelah memahami kedudukan yang ditetapkan oleh Allah, anda seharusnya tolong menolong di antara suami isteri dalam meletakkan hak dan kedudukan ini supaya kena pada tempatnya.

5) Anda haruslah ingat bahawa pasangan anda adalah manusia biasa yang tidak terkecuali daripada kelemahan dan kesilapan. Anda juga demikian. Oleh itu sekiranya pasangan anda melakukan kesilapan, janganlah terlalu diperhitungkan. Sentiasalah mengamalkan sikap bertolak ansur dan saling maaf memaafi antara suami dan isteri.

6) Dalam surah Al-Baqarah ayat 187, Allah menggambarkan hubungan suami isteri sebagai pakaian bagi satu sama lain. Bayangkan bagaimana pentingnya pakaian bagi manusia untuk menghindarkan diri daripada hujan dan panas,begitulah pentingnya anda kepada pasangan anda. Sebagai pakaian anda diperlukan setiap masa oleh pasangan anda untuk menutupi keaibannya dan melindunginya daripada perkara-perkara yang tidak menyenangkan. Oleh itu anda perlulah menjadikan diri anda sebagai pakaian yang terbaik untuknya dan menjauhkan diri daripada menjadi pakaian yang buruk, lusuh dan tidak berguna.

7) Sebagai seorang Islam, telah wujud ikatan persaudaraan Islamiah antara anda dan pasangan sebelum perkahwinan. Ijabkabul bukan sahaja menjadikan anda suami atau isteri malah mengerat dan mengemaskan lagi ikatan persaudaraan ini. Oleh itu kasih sayang tidak hanya berfungsi untuk mengikat suami dan isteri tetapi juga sebagai saudara seiman dan seagama.

8) Anda perlulah beradab dipertemuan pertama dengan pasangan anda. Suami hendaklah memberi salam kepada isteri apabila memasuki bilik pengantin dan meletakkan tangannya di atas ubun-ubun isteri sambil berdoa dengan maksud:-

"Wahai Tuhanku aku memohon kepadaMu kebaikannya dan kebaikan apa yang Engkau fitrahkan dia atasnya. Dan aku berlindung dengan Mu dari kejahatannya dan kejahatan apa yang Engkau fitrahkan dia atasnya.

"Selepas itu pasangan hendaklah bersembahyang sunat dan berdoa kepada Allah agar diberiNya kebaikan dan dijauhiNya kejahatan. Dan jika hendak bersama dengan pasangan bacalah doa dengan maksud:-

"Wahai Tuhanku, jauhkan kami daripada syaitan dan jauhkanlah syaitan daripada anak-anak yang engkau anugerahkan kepada kami."

Pertelingkahan antara suami isteri adalah sesuatu yang biasa terjadi sebagaimana lazim disebutkan 'sedangkan lidah lagi tergigit'. Maka apabila berlaku pergeseran janganlah diperbesarkan. Kalau suami marah seeloknya isteri diam dan kalau isteri marah, giliran suami pula diam. Adalah tidak perlu pasangan yang dimarahi cuba membela diri kerana lazimnya ia tidak membuahkan hasil yang baik.

Walau bagaimanapun sesiapa yang marah ini perlulah ingat dan bertanya kenapa aku marah. Adakah pasangan aku telah melakukan mungkar yang bertentangan dengan syariat Allah. Jika tidak, nasihat yang baik adalah lebih berkesan. Hidup saling memaafkan dan saling mengerti antara satu sama lain akan menambahserikan rumah tangga.

Janganlah takut menghadapi dugaan dan ujian kerana rumahtangga yang diuji akan membuatkannya lebih kukuh dan matang jika pasangan bijak mengendalikannya. Sentiasalah berdoa kepada Allah agar mempermudahkan usaha kita dalam melayari kehidupan berumahtangga.
dipetik dari:Alkutubi.blogspot.com