Wednesday, 10 August 2011

Mendekati Untuk Mencintai

by nurjeehan
- Ibnu Athaillah -



Wahai hamba Allah, apabila engkau meminta kepada Allah ketika hampir dengan-Nya, mintalah agar Dia memperbaiki semua yang ada pada dirimu. Berdoalah:

“Ya Allah, perbaikilah segala keadaanku.”

Mintalah kepada Allah agar Dia memperbaiki keadaanmu disertai perasaan reda terhadap semua ketetapan-Nya. Iaitu pasrah dan reda terhadap semua qada’ dan qadar-Nya.

Engkau adalah seorang hamba yang keliru jika ketika diminta kembali kepada-Nya dengan melakukan ketaatan, engkau terus lari dari-Nya dengan melakukan maksiat. Lari dari Allah ditanda dengan perbuatan-perbuatan jahat, melanggar perintah-Nya, keinginan yang menyimpang dan dengan niat yang salah.

Bila engkau lalai dalam solat, mensia-siakan puasa, mengeluh akan kurniaan Allah dan mencintai dunia beerti engkau telah lari dari Allah. Kerana hawa nafsu telah membuat engkau berani pada-Nya. Engkau telah berpaling dari Allah dikala engkau terdorong pada indahnya dunia, terbuai dengannya, sibuk memikirkannya serta lupa pada hebatnya hari akhirat.

Allah berfirman:

“Janganlah kamu membeliakkan kedua matamu (terlalu kagum) dengan apa yang Kami berikan pada mereka sebagai perhiasan kehidupan dunia. Hal itu untuk menguji mereka. Sedangkan rezeki Tuhanmu jauh lebih baik dan lebih kekal.” (Taha : 131)

Allah telah mentakdirkan sihat dan sakit, kaya dan miskin serta bahagia dan sedih kepadamu. Maksudnya adalah agar engkau kembali pada-Nya dan mengetahui semua sifat-Nya sehingga ketika engkau senang, engkau boleh bersyukur dan ketika susah engkau mampu pasrah dan bersabar.

Wahai manusia, berapa kali engkau hinakan dirimu dengan berdiri di hadapan makhluk, meminta bantuan dan pertolongan mereka?

Berapa kali mereka begitu berat mendengar permintaanmu, bermasam muka serta menghinamu?

Sementara engkau tidak pernah sekalipun kembali pada Penciptamu, tidak pernah meminta keperluanmu kepada-Nya serta tidak pernah menghadap-Nya secara khusyuk, berdoa secara jujur dan memohon secara tulus.

Wahai hamba Allah, jika engkau inginkan kemuliaan, janganlah berharap pada makhluk tetapi tambatkan rasa dan harapan pada Allah serta perlihatkan keperluan-keperluanmu yang terdesak kepada-Nya.

Kerana Allah mengabulkan doa orang yang sedang terdesak. Hanya Dia Yang Maha Berkuasa boleh melenyapkan bahaya dan merasa senang jika diminta oleh hamba-Nya. Sesiapa yang meminta kepada makhluk tidak kepada Tuhan dan Tuannya, ia akan menjadi teramat hina.

Dirimu begitu setia dan terbuai dengan makhluk, sedangkan kepada Allah, engkau acuh tidak acuh dan menjauhi-Nya. Engkau tergolong dalam golongan orang yang bodoh kalau terus-menerus menemui makhluk kerana ingin mendapatkan hartanya sementara engkau tinggalkan pintu Zat Pemberi Rezeki, Yang Maha Berkuasa dan Maha Kukuh.

Bolehkan engkau meminta pada makhluk yang fakir lalu meninggalkan Allah Yang Maha Kaya? Jika ingin mendapat pelbagai kurnia, tunjukkan kesusahan dan keperluanmu pada-Nya serta jangan sekali-kali menyandarkan kekuatan sesiapapun yang berada di sekitarmu.

Apabila engkau ingin mendapat bahagian seperti yang Allah berikan pada para wali-Nya dan apabila engkau ingin hidup mulia, mintalah keperluanmu pada Allah, arahkan keinginanmu pada-Nya serta sibuklah dengan-Nya.

Allah berfirman:

“Siapa yang bertawakal kepada Allah, nescaya Allah mencukupinya.” (At-Talaq : 3)

Ibn ‘Abbas berkata :

Pada suatu hari, ketika saya berada di belakang Nabi SAW, baginda bersabda : “Wahai anak muda, jagalah (hak-hak) Allah, pasti Allah menjagamu. Jagalah Allah, pasti Allah memerhatikanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah pada Allah. Jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah pada Allah. Ketahuilah bahawa seandainya umat ini berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, hal itu tidak akan terwujud kecuali dengan takdir-Nya. Sebaliknya jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu, hal itu takkan berhasil kecuali dengan takdir-Nya. Pena sudah kering dan lembaran juga sudah dilipat.” (H.R. Tirmidzi dan menurutnya sanad hadis ini sahih)

Saya mendengar Abu al-’Abbas al-Mursi berkata:

“Demi Allah, aku tidak melihat kemuliaan kecuali saat manusia tidak memerlukan makhluk dan saat ia boleh menjaga diri dari harta mereka.”

Perhatikanlah sentiasa firman Allah:

“Kemuliaan itu hanyalah milik Allah, milik Rasul-Nya serta milik orang-orang yang beriman.” (al-Munafiqun : 8)

Di antara kemuliaan yang Allah berikan kepada kaum mukmin adalah apabila ia menambatkan keperluan dan keyakinannya pada Allah, tidak pada yang lain.

Wahai saudaraku, Allah telah memakaikan padamu pakaian iman dan menghiasimu dengan perhiasan makrifat. Oleh itu, hendaklah engkau malu kepada Allah apabila lalai dan lupa sehingga terdorong pada dunia lalu meminta kebaikan orang lain.

Alangkah buruk andai seorang mukmin meminta keperluannya pada makhluk padahal ia mengetahui keesaan Allah dan mendengar firman-Nya:

“Bukankan Allah mencukupi hamba-Nya.” (az-Zumar : 36)

Di antara janji yang engkau perlu lakukan adalah engkau tidak akan meminta keperluanmu kecuali kepada Allah serta tidak akan bertawakal kecuali kepada-Nya.

“Hanya kepada Allah hendaklah kaum mukmin bertawakal.” (Ali Imran : 160)

Sebaik-baik permintaan seorang hamba kepada Tuhannya adalah memohon agar diberi sikap istiqamah bersama-Nya.

Allah berfirman:

“Tunjukkanlah kami jalan yang lurus (istiqamah).” (al-Fatihah : 6)

Mintalah selalu petunjuk dan sikap istiqamah iaitu dengan sentiasa bersama Allah di setiap keadaan dalam naungan reda-Nya. Iaitu dalam naungan ajaran Nabi SAW seperti yang Allah firmankan:

“Terimalah semua yang diajarkan Rasul dan jauhilah semua yang dilarangnya. Bertawakallah kepada Allah. Sungguh hukuman Allah amat hebat.” (al-Hasyr : 7)

Orang yang sedang berjalan menuju kepada Allah dan mendekatkan diri dengan ibadat, ibarat orang yang sedang menggali perigi di dalam tanah sedikit demi sedikit hingga menemui mata airnya.

Setelah melakukan usaha dan perjuangan yang lama, akhirnya perigi itu memancarkan air. Adapun orang ditarik mendekati-Nya seperti orang yang menginginkan air lalu tiba-tiba awan dari langit menurunkan hujan sehingga ia mengambil air tersebut sesuai dengan keperluannya tanpa perlu bersusah payah. Ertinya, Allah telah menarik orang tersebut kepada-Nya.

Syeikh Abu al-Hassan al-Syadzili bercerita: Pada suatu hari, aku tinggal di pedalaman selama tiga hari. Ketika itu, tidak ada makanan yang boleh dimakan. Tiba-tiba beberapa orang Nasrani melalui di hadapanku. Mereka melihatku sedang tersandar.

Lalu mereka berkata: “Orang ini ulama kaum muslim”

Kemudian mereka letakkan di atas kepalaku sepotong makanan kemudian berlalu pergi.

Sungguh ajaib. Bagaimana mungkin rezekiku berperantaraan dari musuh, bukan berperantaraan dari para kekasih, kataku ketika itu.

Tiba-tiba ada suara yang menjawab: Orang yang hebat bukanlah yang diberi rezeki dari para kekasih tetapi dari musuh.

Wahai hamba Allah, seringkali engkau menunjukkan rasa cinta dan lebih tertumpu kepada makhluk. Tetapi engkau amat jarang menunjukkan rasa cinta kepada Allah SWT. Seandainya dibukakan bagi engkau pintu untuk mencintai Allah, pasti engkau akan menyaksikan pelbagai keajaiban dan mendapat reda-Nya.

Rasa cinta kepada Allah dapat dibuktikan dengan menunjukkan ketaatan kepada-Nya, melaksanakan solat dua rakaat dimalam hari, membaca al-Quran, menziarahi orang sakit, menyolatkan jenazah, bersedekah kepada fakir miskin, membantu saudara muslim yang lain, mengadakan kegiatan yang baik, meyebarkan ilmu ataupun membuang duri di jalanan.

Pedang tidak boleh dipakai untuk berperang kecuali dengan bantuan lengan yang kuat. Demikian juga dengan amal soleh. Ia memerlukan seorang mukmin yang ikhlas dalam mengerjakannya.

Ibadat yang paling ringan yang boleh engkau pakai untuk menunjukkan rasa cinta kepada Allah adalah berzikir secara tulus. Kerana zikir itu boleh dikerjakan meskipun oleh orang yang sudah tua, oleh orang sakit yang terlantar, oleh pekerja yang sibuk dengan tugasnya ataupun oleh orang yang malas yang sedang berbaring di tempat tidurnya.

Allah berfirman:

“Apabila kalian telah menunaikan solat, berzikirlah kepada Allah, dalam keadaan berdiri, duduk ataupun berbaring.” (an-Nisa’ : 103)

Ketahuilah bahawa sesiapa yang mengarahkan cintanya kepada Allah, Allah juga akan menebarkan kemurahan kepadanya. Orang-orang yang berbuat baik akan mendapat kebaikan (yang setaraf) bahkan lebih daripada itu.

Tetapi aneh apabila seseorang lebih bersahabat dan lebih mencintai hawa nafsu padahal ia merupakan suatu malapetaka yang membuatkan manusia menyimpang dari bersahabat dan mencintai Allah.

Padahal Allah merupakan sumber kebaikan. Siapa yang benar-benar ingin berjalan menuju Allah, hendaklah ia mempunyai tekad yang kuat.

Bila muncul pertanyaan, bagaimana caranya bersahabat dengan Allah?

Jawapannya, bersahabat dengan sesiapapun ada kaitannya. Bersahabat dengan Allah adalah dengan mengerjakan perintah-Nya, menghindari larangan-Nya dan bertawakal kepada-Nya dalam setiap urusan. Bersahabat dengan kedua malaikat (Raqib dan Atid) adalah dengan melakukan pelbagai amal kebajikan. Bersahabat dengan al-Quran dan Sunnah adalah dengan mengamalkan isinya.

Bersahabat dengan langit adalah dengan merenungkannya serta bersahabat dengan bumi adalah dengan mengambil pelajaran dari yang ada di dalamnya. Persahabatan tidak semestinya dengan melihat dan menyaksikannya.

Makna persahabatan dengan Allah adalah bersahabat dengan semua kurniaan dan nikmat-Nya.

Bersahabat dengan nikmat-Nya adalah bersyukur.

Bersahabat dengan ujian-Nya adalah bersabar.

Bersahabat dengan perintah-Nya adalah menghormati dan menunaikannya.

Bersahabat dengan larangan-Nya adalah menjauhi.

Bersahabat dengan ketaatan adalah bersikap ikhlas dan bersahabat dengan al-Quran adalah merenungkannya.

Sekiranya seorang hamba melakukan perkara-perkara itu, beerti ia telah menjalin persahabatan dengan Allah. Bila persahabatan terwujud, kedekatan juga akan diperolehi.

Oleh itu, wahai saudaraku jangan sehingga matahari terbit lagi sementara engkau belum menyembah Allah sebagai hamba yang tulus, setia dan menyintai-Nya.

Oleh itu, bersedekahlah setiap hari walaupun dengan 1/4 dirham sehingga Allah mencatatkan engkau dalam golongan orang yang senang bersedekah.

Bacalah al-Quran setiap hari walaupun hanya satu ayat agar Allah mencatatkan engkau dalam golongan orang yang senang membaca al-Quran serta lakukanlah solat malam walaupun hanya dua rakaat agar Allah mencatat engkau dalam golongan yang senang mengisi malam (qiyamullail).

Jangan sehingga berbuat salah dengan berkata: Mana mungkin orang yang hanya mempunyai makanan cukup untuknya bersedekah? Allah berfirman:

“Hendaklah orang yang mampu, memberikan menurut kemampuannya. Adapun orang yang terbatas rezekinya, hendaklah mengeluarkan sedekah dengan apa yang Allah berikan. Allah tidak memaksa seseorang kecuali sesuai kadar kemampuannya. Kelak Allah akan memberi kemudahan menghilangkan kesulitan.” (at-Talaq : 7)

Orang miskin yang diberi sedekah tidak ubah seperti makhluk yang sedang membawa bekalanmu menuju ke akhirat.

Oleh itu, mintalah mereka untuk membawakan bebanan yang engkau kehendaki agar pada hari kiamat nanti engkau pasti mendapatkannya.

Kadangkala seseorang dikirim untuk memberi engkau pelbagai nikmat. Hanya engkau mungkin buntu, tidak sedar dan tidak bersyukur. Engkau seperti bayi dalam buaian yang setiap kali diayun ia tertidur. Kerana setiap kali ditambah rezekimu, engkau tambah berpaling.

Andaikata seorang penguasa mengirim baju untukmu, mungkin engkau hanya berterima kasih dan memujinya. Oleh itu, engkau mesti segera berpindah kepada Tuan yang telah menganugerahkan segala kenikmatan kepadamu. Tinggalkanlah mereka yang tidak sanggup memberi manfaat kepada yang lain.

Saya Pilih Awak Sebagai Suri Hidup Saya




بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ 


“Saya pilih awak sebab saya rasakan awak adalah gadis yang terbaik untuk  menjadi suri dalam hidup saya dan ibu kepada bakal zuriat saya. Saya mahukan seorang isteri  seperti  Siti Khadijah. Saya mahu  awak menjadi ibu yang berjaya mendidik anak-anak saya nanti.”

Ayat biasa yang digunakan oleh lelaki semasa mengayat bakal isterinya. Gadis mana yang tidak bahagia dipuji begitu apalagi yang berkata adalah pemuda idamannya.

Mungkin saja dia akan menjawab, “Kalau saya seperti  Siti Khadijah, mampukah awak penyayang seperti Rasulullah saw? Kalau saya mendidik anak, mampukah awak memimpin saya menjadi isteri yang solehah?”

Apakah yang kita lakukan semasa memilih pasangan hidup? Apakah  yang kita lakukan setelah kita menerimanya ? Yang paling penting, apakah yang kita lakukan untuk menjadi pasangan yang baik di mata Allah untuk orang yang kita pilih itu? 


Firman Allah kepada kita:

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖوَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ
 “Wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita yang keji. Sedangkan wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik..........". [Surah al-Nur, ayat 26] ۚ
Setelah kasih terbina sudahkah kita memastikan sekurang-kurangnya 4  batas terjaga agar nanti doa kita tidak terhadang untuk sampai kepada Yang Maha Pemberi?

  1. 1.     Batas aurat
  2. 2.     Batas pergaulan
  3. 3.     Batas masa
  4. 4.     Batas bicara

Batas-batas ini pendinding dosa, pelindung jiwa, pengukuh hati kepada Ilahi. Melanggar batas-batas ini akan membawa kepada tercabutnya barakah dan jauhnya redho Allah. Bagaimana mungkin bahagia akan dikecap tanpa barakah dan redho dari Yang Maha Esa?


MEMPERBAIKI DIRI MENCAPAI IMPIAN


Impian indah.... tetapi pernahkah kita merangka strategi  untuk menjadikannya suatu realiti. 


Apakah setiap pertemuan dengan si dia adalah pertemuan kerana Allah agar perpisahan nanti jugalah adalah perpisahan kerana Allah.Di antara peretemuan dan perpisahan di manakah kita letakkan Allah?


Apakah setiap kata-kata kepada kekasih  telah ditapis oleh akal dan budi yang terpimpin oleh syar'ie agar ia terlepas dari dosa?  Ingatlah, yang paling ramai di dalam neraka nanti adalah mereka yang tidak menjaga lidahnya

Sekurang-kurangnya ada 7 proses yang perlu kita lakukan untuk mencapai impian menjadi insan yang baik.

  1. 1.     Meneroka
  2. 2.     Memerhati
  3. 3.     Memahami
  4. 4.     menilai
  5. 5.     Memilh
  6. 6.     Mengaplikasi
  7. 7.     Meletakkan sabar dan tawakal atas segala usaha


Meneroka
Perancangan tidak akan sempurna tanpa maklumat dan ilmu yang cukup. Ilham dan ilmu tidak mungkin datang begitu saja tanpa kita meneroka dan mencarinya. Terokalah kehidupan dengan cara yang baik demi mendapat ilmu dan maklumat untuk digunakan bagi mencapai impian. Alam yang luas terbentang penuh dengan pengajaran. Teroka dengan nama Allah agar ilmu yang ditemui adalah ilmu yang benar.

Memerhati
 Perhatikanlah apa yang ditemui  dengan persiapan hati yang bersih, mata yang tajam dan telinga yang sedia mendengar. Adakalanya kita terpaksa mendengar kata-kata yang memedihkan telinga dan melukakan hati, namun teruskanlah memerhati. Perhatikan dengan nama Allah agar penglihatan kita tidak dikaburi oleh kesesatan.

Memahami
Fahamilah rahsia disebalik sesuatu kejadian. Allah tidak menjadikan sesuatu itu sia-sia untuk makhlukNya. 

Menilai
Hebatnya akal manusia adalah kerana kita mempunyai akal yang tajam  untuk menilai apa yang dilihat, didengar dan dirasa. Nilai sesuatu itu dengan adil dan saksama kerana adil sesaat itu lebih baik dari tahjjud sepanjang malam.

Memilih
Hati yang bersih menjana akal untuk membezakan yang baik dan yang buruk bagi dirinya lalu memilih yang mana yang perlu diambil  sebagai pengajaran  dan yang mana perlu dibuang dan dijauhkan sebagai I’tibar.( to learn and to unlearn) Letakkan Allah di depan agar pilihan kita adalah pilihan yang terbaik dan diredhoi.

Mengaplikasi
Sesuatu pengajaran akan hilang begitu saja tanpa dipraktikkan segera. Betulkan yang biasa dan biasakan yang betul.

Meletakkan sabar dan tawakal atas segalanya
Inilah proses yang paling susah untuk dilaksanakan oleh mereka yang bercinta dan lebih mencabar lagi buat suami isteri yang baru mendirikan rumahtangga. Sabar dan tawakal itu kunci ke syurga. Tidak mungkin iblis gembira kalau kita memilikinya. Berbicaralah dengan Allah dengan zikir dan istghfar agar kita mampu memegangnya dengan erat.

Sebelum sah menjadi suami isteri... 
sabarkah kita menghindarkan diri dari zina mata, zina telinga dan zina hati apatah lagi zina sebenar?

Mampukah kita mengatakan tidak apabila dirayu oleh kekasih?

Setelah menjadi pasangan yang sah,

Sabarkah kita menghadapi realiti yang sangat jauh dari apa yang kita bayangkan sebelum ini?

Mampukah kita menahan segala keinginan yang tidak mampu kita miliki kini?

Sanggupkah kita bersabar dengan kekurangan yang ada pada pasangan kita?

Berapa kerapkah kita bersyukur kerana mendapat pasangan yang baik?

Berapa kerapkah pula kita bersungut dan berkeluh kesah dengan ujian yang menimpa?


Berapa kerapkah kita memohon ampun sehari-semalam?


Berapa kerapkah kita berselawat kepada junjungan Rasulullah s.a.w?


Senarai soalan ini akan semakin sepanjang kerana nikmat Allah itu tidak terhitung banyaknya dan dosa kita tidak terukur jumlahnya.

Thursday, 4 August 2011

Siapa suamimu di syurga nanti?


Persoalan mengenai kehidupan berpasangan, suami isteri atau ikatan perkahwinan di syurga kelak pasti bermain di fikiran semua wanita beriman bukan? Pasti mereka ingin mengetahui siapakah suami mereka di sana. Ia akan dijawab mengikut dalil sahih dari Rasulullah s.a.w, namun segala perinciannya adalah hak milik Allah s.w.t. Wallahua’lam.
Kes 1: Wanita yang meninggal dunia sebelum berkahwin
Wanita dalam golongan ini akan dikahwinkan dengan seorang lelaki di kalangan Ahli Syurga. Rasulullah s.a.w bersabda: “Tiada si bujang di dalam syurga” (H.R. Muslim). Ini kerana ada juga kaum lelaki yang belum berkahwin sebelum meninggal dunia.
Kes 2: Wanita yang meninggal dunia setelah bercerai dan tidak berkahwin dengan lelaki lain selepas itu.
Wanita dalam golongan ini juga akan dikahwinkan oleh Allah s.w.t dengan lelaki daripada Ahli Syurga.
Kes 3: Wanita yang meninggal dunia sedangkan suaminya tidak memasuki syurga.
Seperti kes 2, wanita dalam golongan ini juga akan mengahwini lelaki daripada Ahli Syurga.
Kes 4: Wanita yang meninggal dunia setelah berkahwin.
Wanita dalam golongan ini akan bersama suami mereka masing-masing asalkan suaminya memasuki syurga.
Kes 5: Wanita yang kematian suami dan tidak berkahwin selepas itu.
Seperti kes 4, Wanita dalam golongan ini akan bersama suami mereka masing-masing asalkan suaminya yang meninggal tersebut memasuki syurga.
Kes 6: Wanita yang kematian suami tetapi berkahwin dengan lelaki lain.
Apabila seorang wanita ketika di dunia memiliki dua atau lebih suami, maka kelak di syurga dia dipersilakan untuk memilih siapa di antara suami-suaminya yang dia inginkan untuk menjadi pendampingnya di syurga, asalkan suaminya itu tergolong dari Ahli Syurga. Satu lagi pendapat mengatakan bahawa dia akan bersama suaminya yang terakhir. Ini disebut oleh hadith Rasulullah: “Wanita adalah kepunyaan suaminya yang terakhir” (H.R. Al-Albani)

Monday, 1 August 2011

Berubah Untuk Menggapai Redha Allah

Alhamdulillah atas nikmat-Mu ya Allah, kurniaan yang melimpah ini kadangkala membuatkan aku terlupa untuk mensyukuri nikmat-Mu.
alt
Dalam kesibukan mengejar dunia ini, pernahkah kita terfikir untuk memperbaiki diri? Adakah cukup amalan kita?
Bagaimana dengan perhitungan di akhirat yang pasti terjadi? Bersediakah kita?
Mungkin kita biasa mendengar perkataan muhasabah, terutama apabila kita berada di akhir sesuatu program, kita diajak untuk bermuhasabah.
Namun, sejauh mana penghayatan kita terhadap maksud muhasabah tersebut? Muhasabah.
Berasal dari perkataan hisab, iaitu menghitung. Mengapa kita perlu menghitung amalan kita? Firman Allah dalam Surah Al-Hasyr (59:18):
 Wahai orang-orang yang beriman! bertaqwalah kepada Allah (dengan mengerjakan suruhanNya dan meninggalkan laranganNya); dan hendaklah tiap-tiap diri melihat dan memerhatikan apa yang ia telah sediakan (dari amal-amalnya) untuk hari esok (hari Akhirat). Dan (sekali lagi diingatkan), bertaqwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat meliputi pengetahuannya akan segala yang kamu kerjakan.
Jelas daripada ayat ini kita memang dituntut untuk menghitung amalan kita.
Andai dalam kehidupan harian kita sibuk merancang dan menghitung budget dan merancang untuk pelbagai perkara, mengapa pula kita terlupa untuk menghitung bekal amalan di akhirat kelak?
Dalam ayat seterusnya (59:19) Allah memberi peringatan untuk kita tidak melupakan perintah-perintahNya.
 Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang telah melupakan (perintah-perintah) Allah, lalu Allah menjadikan mereka melupakan (amal-amal yang baik untuk menyelamatkan) diri mereka. Mereka itulah orang-orang yang fasik (derhaka).
Perkaitan antara kedua-dua ayat ini menunjukkan bahawa kita menghitung diri adalah dengan mengikuti perintah Allah.
Islam sebagai agama petunjuk kepada penganutnya.
 Tidaklah sama ahli neraka dan ahli Syurga; ahli Syurgalah orang-orang yang beroleh kemenangan (mendapat Segala Yang diingini).
Ia bukan hanya teori tapi praktikal untuk setiap urusan manusia. Yang membezakan seorang muslim dan mukmin adalah pada amalannya. Sepertimana Allah menekankan dalam ayat seterusnya (59:20):
Memang berbeza antara dua golongan ini. Ibarat langit dan bumi. Jurangnya sangat ketara antara penghuni syurga dan neraka. Salah satunya dalam rahmat dan satu lagi dalam kelaknatan.
Jadi timbanglah dengan neraca iman, ke mana lebihnya kita? Ke jalan redha atau kebencian Allah?
Jadi di sini saya ingin berkongsi beberapa cara untuk bermuhasabah, semoga dapat memberi manfaat.
01.Mengingati mati. Ini cara terbaik untuk bermuhasabah. Mengingatkan diri tentang kematian yang pasti terjadi membantu kita mengkoreksi diri. Secara tidak langsung menjadi pendorong untuk kita menambah amal kebaikan.
02.Mengingati kelemahan diri. Dengan kita menilai kelemahan diri kita secara tidak langsung membantu dalam memperbaiki kelemahan diri. Cara lain ialah dengan menukar kelemahan itu menjadi kekuatan. Sebagai contoh kita cuba kurangkan sifat suka berkata perkara-perkara lagha dengan berzikir, mungkin nampak jauh sangat perbezaannya, namun andai cuba diamalkan, InsyaAllah akan jadi kekuatan akhirnya.
03.Tidak membesarkan kekurangan orang lain. Janganlah dibesar-besarkan kekurangan orang lain kerana hakikatnya Allah menutup-nutup kekurangan kita. Andai kita menutup kelemahan orang lain, Allah akan melindungkan kelemahan kita.
04.Menjadikan kebaikan orang sebagai kayu ukur untuk kita. Dalam hal amalan kebaikan, amatlah wajar untuk kita meniru orang lain. Jadikan ia sebagai penanda aras untuk kita dan letakkan sasaran untuk menjadi yang lebih baik dari orang lain.
05.Menjadikan Rasulullah SAW sebagai ikutan utama. Sangat jelas bahawa Nabi junjungan mulia contoh terbaik buat kita. Mulakan dengan mengamalkan perkara-perkara yang menjadi sunnah baginda.
06.Berdoa sebanyak-banyaknya agar Allah mudahkan kita untuk berubah dan memperbaiki diri. Allah yang memegang hati kita dan Dia jugalah mampu membuka hati kita untuk suka kepada kebaikan dan membenci kejahatan. Hidayah itu milik-Nya jua.
Sahabat-sahabatku, marilah kita sama-sama bergerak dan bertindak ke arah perubahan yang InsyaAllah mengundang redha Allah, biiznillah.
Doakan moga kita berjaya bermujahadah ke arah kebaikan dan kekal istiqamah dalam beramal..ameen. Wallahualam...